Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, 18 August 2015

Cukup.

Hari mulai beranjak sore saat kepala Alma mulai terasa pening. Report dokumentasi testing website ini harus selesai 2 hari lagi tapi baru diselesaikan 50%. Alma beranjak menuju pantry, menyeduh segelas cokelat panas. Ia duduk di coffee table, menyesap cokelat panasnya, dan membuka 1 conversation chat. Dio.

Alma: pengen pecah kepala gueeee...
Dio: *siapin ember*
Alma: ngapain lo nyiapin ember?
Dio: kan bentar lagi pecah. Kalo isi kodingan kepala lo sampe tumpah ya biar bisa ditadahin
Alma: kampret!
Dio: hahahahaaa! Santai, Al. Minum cokelat dulu gih
Alma: ini lagi minum cokelat di pantry kok. Lagi sibuk ya lo?
Dio: udah nggak sih. Bos gue missing in action gitu kelar meeting tadi.
Alma: ih kok enak...
Dio: rejeki anak sholeh namanya
Alma: ntar ke tempat biasa yuk
Dio: boleh boleh
Alma: after office ya. See you, dut!
Dio: -,- see you, dear!

Tiba-tiba semangat Alma yang tadinya hilang, kembali ke alam normal. Seusai me-time nya di pantry, dalam 3 jam menuju jam pulang kantor, pekerjaan Alma hari itu bahkan lebih dari ekspektasinya.



Saturday, 28 June 2014

Sebenarnya, ini hanyalah cerita pendek.





Mocca - What If

***

Ruangan ini ramai, tapi Naya tidak mengenal siapapun kecuali sahabatnya yang notabene mengajaknya ke tempat ini. Banyak orang memainkan alat music diruangan ini. Memainkan partitur yang sama. Bukan, ini bukan ruang orchestra ataupun ruang latihan untuk sebuah pagelaran. Naya diajak Melisa untuk mengisi vocal untuk sebuah medley lagu anak disebuah studio music. Naya yang memang bersahabat dengan alunan melodi, mengiyakan ajakan Mel.
Seorang lelaki memainkan gitarnya disudut ruangan. Mencoba membuat improvisasi dari guide partitur yang sudah ada. Kaos hitam, jeans, dan moccasin yang dikenakannya harusnya luput dari perhatian 15 orang yang ada diruangan itu. Tapi tidak oleh Naya. Saat Naya mencari tempat untuk duduk supaya dia leluasa mempelajari lagu, Naya melangkahkan kakinya ke sofa yang sama dengan lelaki itu. Duduk, menatap lelaki itu, seakan meminta izin untuk menginterupsi sedikit lahan disampingnya. Lelaki itu menyibak rambutnya yg agak gondrong, menatap Naya, dan tersenyum. Senyum yang mengawali perkenalan Naya dengan… Martin.

***

Perjalanan malam ini adalah perpisahan mereka sebelum Martin berangkat ke Belanda, kembali ke studi magister-nya disana. Seminggu setelah perkenalan mereka di studio music itu, mengalir cerita tentang masing-masing, menyimpan kagum akan masing-masing, menyelipkan rasa nyaman dihati masing-masing.
“Kalo gak karena Mas Sukma yang maksa aku ngisi lead guitar di projectnya, aku gak bisa kenal kamu nih.” Ujar Martin sambil menyeruput cappuccino lattenya. “udah ditulis disana, makanya kita bisa sampe makan disini.” Naya menunjuk langit penuh bintang, walaupun maksud yang dituju Naya bukan bintang bertaburan itu. Martin tersenyum, membelai punggung tangan Naya sembari tersenyum.
“Terimakasih udah nemenin aku selama liburan disini ya. Kamu dan ceritamu terlalu menarik untuk sekedar didengar dan disimak.” Martin menatap mata bulat Naya. “kamu sudah ada didalam ceritaku, Martin.”
“temani aku satu kali lagi, mau?” Martin mengajak Naya bangkit dari tempat duduk mereka. “kemana?” Tanya Naya. “ke mimpiku. Stay there till the sun is shine, will you?” Naya mempererat genggamannya.

***

Satu bulan berlalu setelah Martin kembali ke Belanda. Naya kembali ke dunianya tanpa percikan yang berhasil Martin buat. Pagi berganti pagi, bulan datang dan pergi hingga kembali bulat utuh lagi. Setiap hari terang datang menggantikan gelap malam, saat dimana mimpi harus berhenti, kembali kepada kenyataan. Kenyataan bahwa Martin dan dirinya terpisah entah berapa mil jauhnya.
Beberapa pesan akhir-akhir ini tak terjawab. Jangan Tanya mengapa. Hidup berputar, detik tetap berdetak sementara apa yang manusia namakan masalah, selalu bertambah. Kemarin mungkin Naya adalah prioritas Martin, begitupun Martin pada Naya. Tapi detik ini, dan detik selanjutnya, semua bisa berubah. Naya menitikkan air matanya untuk hal ini. Martin, are you just walk away now? Do you cry for this, just like me?

***

“I missed you.”
“I missed you even more, Naya.”
“why don’t you tell me? Why don’t you make me proved that you miss me too?”
“lalu kalau kamu tau aku merindukanmu, apa kita akan tetap bersama?”
Naya menangis. Ya, dia tau mereka tidak akan pernah kemana-mana. Tuhan yang tidak mentakdirkan mereka untuk bersama. Naya menangisi ini dalam sujudnya, dalam balutan kerudung putih panjang, diatas sajadahnya. I give you my heart, Martin. But why  we have to be apart?

***

Nada mereka kian meninggi, seiring ego yang juga kian mengeras. Diantara rindu yang tak terkatakan, cinta yang terlalu keras, dan kompromi yang tak kunjung datang. “aku kira kamu bisa paham sama keadaan aku, Nay. Gak gampang diposisi kita kaya gini. Tolong kamu juga ngerti perasaan aku…” Naya tidak menggubris kalimat Martin. Naya mendengar, namun tenaganya –emosinya, sudah kelelahan. “lalu kamu mau gimana? Bilang sama aku, Martin… kamu mau gimana?” what if I did disappoint you, are you gonna say goodbye?

***

Martin mengirim sebuah lagu untuk Naya. Mengajak Naya berdamai dengan keadaan. Disela waktu yang masih mereka miliki, kesempatan  yang tidak bisa selamanya bersama mereka, Naya dan Martin harus merasa cukup untuk bisa merasakan sayang yang berbalas. Lets sing along with me, while you cant walk beside me, Naya.

***

Kini Naya dan Martin sama-sama tengah duduk, di langit yang sama dengan warna langit yang berbeda. Semburat ungu gelap yang berubah menjadi jingga, mengantar matahari yang kembali datang menjemput Naya dari alam mimpi, menemani Naya yang sedang berusaha mencerna takdir.
Di belahan Bumi yang lain, Martin masih memandangi bintang. Gelap langit yang menjadi latar titik kuning keemasan yang berkilau, mengundang kenangannya pada Naya malam itu, malam dimana Martin meminta Naya untuk tetap berada dalam mimpinya.


Takdir, kau tinggalkan kami diantara perasaan yang sendu. Kami menunggumu, menunggu asa yang kembali akan kau bawakan untuk kami.

-          Naya dan Martin.

Friday, 21 December 2012

dulu, sampai nanti kiamat.

dulu, aku ga liat kamu.
aku ga tau kamu siapa, aku ga tau kamu ada.
dulu aku terlalu egois untuk kenal sekian banyak kepala di ruangan itu.

sampai kamu menyapa disebuah jejaring sosial pun, aku ga tau kamu yang mana.

dan terjadilah percakapan. iya. lalu aku tau kamu yang mana.
disitu juga aku masih menganggap kamu asa.
waktu itu, aku memikirkan orang yang ga mikirin aku sama sekali, mungkin.

tapi kamu mikirin aku.
kamu mikirin gimana aku notice sama kamu.
mikirin gimana kamu -at least bisa dapet nomer handphone ku.

tiba-tiba kamu ada di inbox handphone ku.
lalu berubah menjadi tiap malam.
lalu tiap siang dan malam.
lalu jadi tiap pagi-siang-malam.

terus aku suka. suka sama cara kamu dapetin perhatian aku.
kamu yang perlahan jadi dunia baru, menarik untuk ditengok.
aku suka kamu, yang ternyata dari awal kamu suka sama aku.

terus jadi nyaman deh. jadi ga ada objek lain kecuali kita. iya, KITA :)

simple ya. jatuh cinta ya kaya gitu.
bukan kamu suka terus aku juga suka.
tapi kamu menarik aku ke dunia yang bikin aku nyaman.
yang bikin aku ngerasa.. "gue juga harus bikin dia nyaman".

kalo kata orang pinter, give and give each other.

lalu, sekarang kita sedang sama-sama berjalan ke satu arah.
BAHAGIA.
iya, aku mau bikin kamu bahagia. kamu juga bikin aku bahagia.
kenapa sih?

              | aku pernah nanya,
              | "kamu cinta banget ya sama aku?"
              | dengan kesal namun gemas kamu menjawab,
              | "menurut loe?", sambil kembali menciumku.

bisa jadi kita sama-sama mau saling bikin bahagia karena cinta.
beberapa orang menyebut ini dengan kata sayang.
cinta dan sayang itu kan abstrak.
aku sendiri ga tau definisinya gimana.

yang aku rasain, aku nyaman.
aku nyaman sama kamu. kehidupanmu.
aku nyaman sama kita. ya, kita yang seperti ini.

lalu ujung arah bahagia itu apa? dimana?
aku juga ga tau.
aku ga mau nebak, ga mau meramal.

lihat saja orang yang meramal kiamat,
buktinya ga ada apa-apa kan?

aku percaya Tuhan.
Tuhan sang empunya cerita.
seluruh cerita, termasuk cerita tentang kita.
juga cerita tentang kiamat.

yang aku harapkan,
cerita kita ya sampai kiamat. ga tau kiamatnya kapan.

//ditulis setelah 26 bulan kurang sehari setelah kamu bilang.. 
"jadi pacarku ya?"  --disela jam kosong, ga ada dosen, dengan kepala yang kusandarkan dibahumu.

Wednesday, 11 January 2012

She was Mine

22 Juni 2008.
Dita tak juga melepas rangkulannya ditangan Adit. Membayangkan berbulan-bulan, bahkan beberapa tahun tanpa Adit disampingnya membuat Dita ingin sekali mengecilkan dirinya dan masuk kedalam salah satu koper Adit. Betapa tidak, hari-hari indah yang biasa dilaluinya bersama Adit akan segera berakhir. Nanti, setelah gerbong kereta itu membawa Adit ke Malang, melanjutkan studinya.
Mereka ada di ruang tunggu, menghabiskan sisa waktu bersama dalam diam dan saling menatap. Tak peduli berapa banyak mata memandang, Adit pun hanya ingin mengabadikan setiap momen bersama Dita di detik terakhir ini. well, aku pasti kembali Ta. Aku nggak akan selamanya ada disana, aku akan pulang ke kamu. Batinnya. Seperti mengerti bahasa kalbu, Dita memberikan senyumnya paling indah. ia tau lelakinya akan pulang, nanti.
Bunyi peron mengisyaratkan kereta yang akan membawa Adit telah siap. Adit menghela nafas panjang. Dita menundukkan kepala, terbersit doa yang tak pernah dijawab Tuhan. Jangan biarkan kereta itu membawa Adit, ya Tuhan. Aku ingin ada di sampingnya. Setitik air mata yang keluar dari pelupuknya diusap perlahan. Dita tersenyum miris.
Di depan pintu gerbong, Adit memeluk erat tubuh mungil Dita. “aku gak kemana-mana Ta, aku disini..” Adit menyentuh kepala Dita, turun ke dada, dan menggenggam tangannya. “Aku ada di setiap nadi kamu, jadi jangan takut sama jarak yang misahin badan kita yaaa…” Adaity kembali mengecup lembut dahi Dita.
Perpisahan itu pun tetap ada.
So I hopped on a train,
Three in the afternoon,
I don't know when I'm coming back,
But I hope that its soon,
See I never thought (never thought)
that I'd have to leave your side.

***
20 Agustus 2008.
Dita mengengguk latte-nya di coffee shop tempatnya menghabiskan waktu dengan Adit. Kini ia sendiri, ditemani laptop yang menyala dengan beberapa file tugas kuliah yang belum selesai. Ia terbersit untuk memakai koneksi wifi dan menyalakan skype-nya. Sebersit harapan semoga Adit juga melakukan hal yang sama.
Sepertinya Tuhan mendengar isi hati Dita. Adit tergerak untuk me-log in skype-nya, mencari nama Dita. Yap, Dita sedang menunggunya.
Adit: hey love!
Dita: heeeeeeeeeyyy.. I’m missing you here man!!
Dan di dua tempat yang berbeda, Tuhan tau 2 anak manusia itu tengah menikmati cinta pada jaraknya masing-masing.
Its only physically,
But know that you will be on my mind,
Twenty four hours at a time,
'Cause in my eyes you were mine (you were mine).



No matter where you go,
I won't be very far,
'Cause in my head I'll be right there where you are,
'Cause love has no distance baby,
Love, love has no distance baby,
No, not when it comes to you and me.
***
22 November 2008.
Dear Adit, my daydreaming all the times.
Akhir-akhir ini hujan terus nemenin aku di jendela kamar. Mungkin air mata aku nggak jatuh, tapi hujan mewakili semua perasaan aku.
Aku kangen kamu Dit, kangen banget.
Tiap tidur, aku gak pernah lupa untuk berdoa supaya Tuhan mempertemukan kita di mimpi. Aku ingin sekali lihat wajah kamu, menyentuhnya, mengecup disetiap incinya. aku mendekap erat cintamu dalam nadiku, seperti yang kamu bilang sebelum kamu pergi.
Aku cinta kamu Adit, aku kangen.
Love, Aphradita.

Miris, Adit membaca email di laptopnya. Aku pun merindukanmu, dewi cintaku.
See she wrote me a letter,
Said the weather wasn't better,
But she said that she was doing fine,
I wanna see you face to face,
That's what she wrote to me that day,
And I knew that it was all a sign.

***
29 November 2008.
Adit mengcover sebuah lagu dengan gitar yang dibawanya ke Malang. Semoga Dita mendengar setiap jerit hatinya yang memanggil nama Dita disetiap doanya setelah sholat. Dita yang selalu membuatnya mengejar nilai bagus, supaya ia tak perlu terlalu lama di kota ini. Malang indah, tapi keindahan yang ia inginkan ada di tanah kelahirannya di Jakarta. Ada Aphradita, dewi cintanya.

So I wrote back with this song,
Promise it won't be too long,
Wanna make up for all our lost time,
'Cause in my eyes you were mine (you were mine).

***
19 Juni 2011.
Adit membersihkan kamar kosnya. Berkas-berkas kuliahnya di semester awal sudah di pak supaya tidak memenuhi kamar kecilnya yang nyaman. Ditengah beres-beresnya, matanya tertuju pada satu kotak sakralnya. Berisi semua surat, CD, foto, dan barang-barang miliknya dari Dita. Tapi tak terasa, 3 tahun sudah tak pernah lagi kotak itu terisi. Lupakah kamu, Dita?
3 tahun sudah ia jauh dari Dita. Harusnya akhir tahun ini ia bisa mengunjungi kekasihnya itu, tapi KKL, segala tugas menjelang tugas akhirnya mengharuskan ia untuk tetap berada di Malang. Betapa rindu itu menyedihkan tapi cintanya tak pernah mematahkan semangatnya untuk terus menyelesaikan tugasnya serapi dan secepat yang ia bisa. Adit hanya ingin cepat pulang. Adit yakin Dita tetap ada untuknya. Selalu ada mention di twitternya, meski tak sering. Yang ia tahu, Dita adalah perempuannya.
So I'm lookin through these boxes.
My life's gone off track.
'Cause its been three years.
She hasn't written back.
But in my eyes.
She's still mine.
***
14 februari 2012.
Adit menginjakkan kakinya di stasiun Gambir. Betapa ia rindu pada kota ini, pada hawa panas yang membuatnya merasa pulang. Ibu sudah ditelfon, mengabarkan bahwa ia sudah di Jakarta, namun tidak langsung pulang. Ia ingin menemui perempuan yang selalu mengisi kepalanya, hatinya, dan denyun nadinya.
Masih samakah semuanya seperti 4 tahun yang lalu? Sedikit rasa ragu sempat terlintas dipikirannya. Tapi ia menggeleng pelan, menyalahkan suara hatinya barusan. Senyum mengembang saat ia berada di depan rumah Dita, melihatnya tersenyum menyambut kedatangan Adit. Ya, Dita tahu Adit pulang hari ini. dan Dita telah siap dari pagi, menunggu Adit di depan rumahnya. Aku masih milikmu, aku masih perempuanmu, Dit.

And I know it sounds so stupid,
To be waiting this long,
But I'm still in love and I know I'm not wrong,
'Cause in my eyes,
She was mine.

Wednesday, 2 November 2011

happy anniversary


Jam menunjukkan pukul 10 malam. Tak ada satupun sms ku dijawab. Terakhir aku hanya mengatakan selamat malam dan menyusulnya tidur. Sebersit harapan ada dering di ponselku pada jam 12 malam nanti, dan ucapan happy anniversary. Tapi tak apa, bercinta dengannya tak perlu banyak kata. Saat ragu itu melanda, satu pelukan dan kecupan di kening sudah cukup membuat ragu itu menghilang. Aku tau ia mencintaiku, tanpa banyak kata.

***

Aku terbangun dan menjalani pagiku seperti biasa, hectic di pagi hari. mandi, merapikan pakaian dan dandan simple seperti biasa, lalu sarapan. Tak ada yang special darinya hari ini. sapaan selamat pagi yang tidak pernah absen itupun tetap singgah di ponselku.

Sesampai aku di kampus, ia menyambutku dengan rangkulannya seperti biasa. Lalu kami berjalan menuju kelas kami bersama, masih sama seperti setahun belakangan ini. yang beda adalah senyumnya yang mengembang tanpa lelah. Rangkulannya pun tak ia lepas dengan beberapa kali ia mencium ubun-ubunku dengan mudah karena aku memang lebih pendek darinya. Dengan nyaman kusenderkan kepalaku di dada bidangnya. Ini adalah bagian terindah darinya yang selalu kukagumi. Dada bidang ini sungguh membuatku seakan aku sangat safety berada disini, disampingnya.

Kubuka pintu kelasku dan taraaaa…
Sekotak tiramisu yang sungguh menggiurkan itu sudah terletak manis di atas mejaku dengannya. Sebuket bunga mawar putih dan sebuah benda dibungkus kertas kado juga sudah tertata manis. Senyumku spontan mengembang. Ia merangkulku dari belakang. “aku sayang kamu, happy anniversary ya baby… “ dikecupnya ubun-ubunku sambil menggiringku ke meja kami.

Ia memberi isyarat untuk meniup lilin berbentuk angka 1 itu. Ia menggenggam tanganku lalu mengajakku untuk make a wish. Sungguh aku berdoa dengan penuh khusyuk “tuhan, jika ia jodohku, dekatkanlah kami dengan ridho-Mu. Kuatkanlah hati kami oleh segala aral rintang pada hubungan kami. Biarkan aku mencintainya atas nama-Mu. Namun jika ia bukan jodohku, mudahkanlah perpisahan kami dan bimbinglah kami agar tetap menjaga silaturahmi yang sungguh indah ini…”ia menungguku membuka mata. Aku menatap matanya yang penuh cinta, lalu kami meniup lilin angka 1 itu bersamaan.

***

Sore itu pantai memberi cuaca berangin, membuatku langsung betah untuk langsung terduduk dan menikmati ombak-ombak kecil yang saling susul menyusul. Ia duduk disampingku sambil memberikan 1 kelapa muda. Tak ada kata. Ia hanya merangkulku lagi dan aku menyenderkan kepalaku dibahunya.

Aku memejamkan mata sejenak. Mendengarkan suara ombak yang merdu, kicau burung camar, dan gumaman lagu John Mayer berjudul Clarity. Ini surga kecilku. Menikmati setiap detikku dengannya. Menikmati setiap belaian halus tangannya di kepalaku.

Saat aku membuka mata menatap ke ujung laut, matahari tengah tersenyum padaku. Memberi bias mega merahnya. Memberi suasana sunset yang menyejukkan mata. Kini dia memelukku. Kubalas pelukannya dengan mesra. Aku berbisik “aku bahagia sama kamu sekarang. Jangan bosen bikin aku bahagia yaaa..”

Dia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku. “selama kamu disini..” ia menunjuk dadanya, “aku mau bikin kamu bahagia terus.” Lalu kutatap matanya, “aku gak mau kemana-mana. Aku mau selalu ada disitu..” aku menimpakan tanganku diatas tangannya yang masih menempel didadanya.

Tak ada banyak kata, tapi senyum kami terus mengembang sepanjang hari kami; Anniversary Day.

***
Aku membuka mataku saat alarm itu berbunyi. Rutinku, membuka flip handphone untuk melihat jam dan mengecek sms atau apapun. Ya, ada 1 sms dari dia.

Beb, maaf ya aku ketiduran..
Oiyaa, happy first anniversary yaa sayang :*

Time : 01.00 01-11-2011

Aku tersenyum dan membalas sms itu dengan sapaan selamat pagiku.

Begitu bahagianya aku di mimpiku semalam. Aku tak lagi berharap macam-macam. Aku berterimakasih pada tuhan, Dia memberi hadiah anniversary-ku. Mimpi itu.

Benar kan, bercinta dengannya tak perlu banyak kata.





note : happy anniversary dhimas :) i accidentally in love with you!

Saturday, 29 October 2011

penantian

Mereka terdiam dalam gelap malam di depan rumah Atisha, masih di dalam mobil. Randy pun tak membuka mulut sejak pernyataan itu terucap lagi untuk ketiga kalinya, kepada gadis yang sama. Atisha pun tak bereaksi apa-apa walaupun ia sadar betul mereka sudah sampai di depan pagar rumahnya.

“Sha…”

“makasih ya Ndy udah ditemenin.” Atisha tergugup melontarkan kalimat itu. Tapi ia pun tak juga beranjak dari jok mobil itu. Matanya memandang clutch bag yang sejak tadi didekapnya. Atisha tau Randy sedang menatap lurus kearahnya.

“mungkin loe bosen ya Sha, tapi Cuma kata itu yang selalu terngiang di hati dan pikiran gue. Maaf kalo itu ngeganggu loe..” Randy kini benar-benar pasrah akan respon Atisha. Seketika itu, Atisha menoleh dan menatap lembut matanya.

“makasih juga untuk yang satu itu…” tangan Atisha menggenggam Randy. Disapukannya kecupan di pipi Randy. Gue gak pernah bosen dicium begini sama lo Sha, tapi please ada satu kata yang lo keluarin dong untuk ngejawab semua pernyataan gue… Speechless namun bahagia, Randy tersenyum menatap mata indah Atisha. Mungkin untuk sekarang hanya cium pipi yang bisa gue dapetin..

***

“nyebelin banget kan tuh dosen! Padahal kan gue juga nyatet walopun sambil ngobrol sama Fitri..” keluh Atisha manja saat jam makan siang di kantin. Randy tersenyum riang mendapati wajah manja itu kembali mencarinya. “Dosennya ga diajak ngobrol juga sih, makanya sensi deh dia…” Randy menimpali omongan Atisha.

“yee… kalo ganteng mah gue ajak ngobrol deh Ndy. Tampang ngepas, jadi tutor ngebosenin gitu ya susah diajak ngobrol sama gue!” Atisha mengerucutkan bibirnya.

“berarti gue ganteng dong yaa. Kan gue bisa ngobrol sama lo…” Randy kembali menggoda Atisha. “ya ampun! Selamet ya Ndy! Lo pantes dapet nobel kalo gitu…” Atisha memeragakan seakan Randy mendapat sebuah penghargaan. Randy terbahak mendapati Atisha kembali ke mood semula. Kesalnya pada dosen yang selama 1 jam mata kuliah Statistika tadi bikin Atisha gondok, kini hilang sudah.

Quality time sama lo kayak gini yang selalu gue nantikan tiap ke kampus, Sha. Lo adalah semangat gue untuk ngelanjutin hari-hari gue, Atisha Paramesti.

***

Kali ini Randy menemani Atisha mengerjakan tugas ditempat favorit mereka. dibawah pohon kamboja yang rindang, di taman kampus. Sejam berlalu, wajah Atisha tampak tambah kusut. Randy yang sejak tadi juga sedang mengutak-atik blog nya, sesekali menengok kea rah Atisha. Inilah mereka, walaupun kadang tak ada komunikasi yang terjadi, tapi tetap butuh satu sama lain disampingnya.

“gue beliin cemilan ya. Biar otaknya bisa rada lurus kalo udah kenyang. Kasian tuh udah pada kusut di dalem tempurung kepala lo…” ujar Randy sembari bangkit dari duduknya, mengelus lembut rambut indah Atisha yang sebahu itu.

“jangan lama-lama. Gue gak bisa mikir kalo ga ada lo…” tampang Atisha kini serius. Ingin rasanya moment itu diabadikan Randy. Namun Randy hanya tersenyum sambil mengangguk. Semoga artinya segamblang pernyataannya, Tuhan. Semoga dia benar-benar sangat membutuhkanku.

Tanpa Randy tau, Atisha memandanginya hingga kembali.

***
Dan malam minggu pun datang lagi.

“gak ada undangan lagi Sha?” Tanya Randy sore itu lewat telpon. “nggak nih, tumben banget cewe cantik kaya gue ga ada undangan malem minggu gini. hehehee…” jawab Atisha pede. Sudah tabiat Atisha seperti ini, dan Randy menyukainya.

“yaudah, abis maghrib gue jemput ya. Gue yang undang deh, undangan super kilat.” Ajak Randy spontan. Ia juga tak tahu akan membawa Atisha kemana.

”okey!” jawaban Atisha yang sangat antusias ini yang selalu membuat Randy panas dingin. Gadis ini benar-benar membuatnya jatuh cinta terlalu dalam.

Bundaran HI, Malam Minggu, Honda City milik Randy.
“terus kita malem mingguannya Cuma ditengah macetnya Jakarta aja?” Atisha merajuk. Randy tersenyum ringan. Tangannya mengelus lembut rambut Atisha. “tinggal di Papua aja Sha kalo ga mau macet..” jawab Randy enteng. Bibir Atisha pun kembali mengerucut, kebiasaan Atisha saat ia merajuk.

“tapi bête tau Randy!!!” Atisha semakin uring-uringan. Dipencetnya tombol play pada iPod yang terpasang langsung pada sound system mobil Randy. Lagu Party Rock anthem milik LMFAO membuat suasana mobil jadi lebih hidup.

“lumayan jadi mood booster nih lagunya. Pinter juga yaa Randy milih lagu…” puji Atisha sambil menepuk pelan pipi Randy. Randy masih sangat santai menikmati macetnya Jakarta –dan berada disamping pujaan hatinya.

Dan malam itu pun mereka berkaraoke dadakan di tengah macetnya Jakarta. Bersama lagu-lagu yang ada di iPod Randy, tawa riang saat nada yang mereka lagukan mendadak sumbang, mengajak pengamen jalanan ikutan bernyanyi dengan lagu mereka dibanding lagu yang dibawakan pengamen itu.

Kruyuk. Terdengar jelas meski ditengah dentuman beat music di dalam mobil itu. Randy terdiam, begitupun Atisha. Sedetik berlalu, dan Atisha nyengir. “yaah.. ketauan deh lapernya. Hehehee..” ujar Atisha polos. Randy tertawa terbahak karenanya.

“bilang dong dari tadi, kan kita bisa mampir dulu ke mini market buat cari ganjelan. Gimana sih neng…” ujar Randy sambil mengelus perut atisha yang keroncongan. Randy membelokkan mobilnya ke area parkir sebuah mini market. “lo tunggu disini aja ya Sha, biar gue aja yang beli. Mau pesen apa?” Tanya Randy sambil mengambil dompet di dasbor. “apa aja yang lo beliin gue suka deh, asal bisa dimakan..” Atisha kembali nyengir.

Setelah Randy masuk ke mini market, Atisha menyapukan jemarinya di layar iPod secara asal. Tiba-tiba ia menemukan satu lagu –entah rekaman atau apa– dengan nama yang membuat degup jantung Atisha bertambah cepat. Special akustik for Atisha. Penasaran disentuh tanda segitiga untuk memutarkan lagu itu. Dentingan gitar akustik terdengar kemudian, dan suara Randy!

Ini perasaan yang sejak dulu gue rasain Sha, entah sejak kapan. Yang pasti kehadiran lo selama ini udah buat jantung gue serasa naik roller coaster. Kadang saat kesabaran masih ada, gue masih cukup berbahagia dengan kecupan dipipi gue. Juga gandengan manja dari tangan lo, tepukan ringan di wajah gue, pelukan spontan saat lo ketemu gue. Itu surga Sha, itu tanda sayang Tuhan sama gue; mempertemukan gue sama lo, Atisha Paramesti, perempuan terindah yang pernah gue kenal.

Senyum Atisha mengembang. Sedikit banyak Atisha tau itu semua, walau bimbang kadang merajai pikirannya.

Ga perlu lah gue berbanyak kata, lagu ini udah mewakilkan semua perasaan gue ke lo Sha. Andaikan ada satu jawaban, kata-kata yang terlontar dari bibir indah lo, yang menjawab semua galau dihati gue.

Lagu itu pun terlantun jelas. Atisha tau, lagu itu berjudul Jadi Saja milik Kahitna. Randy kadang menggumamkan liriknya dan tak sengaja Atisha search di google.

Bukan ku tak tau kebimbangan dimatamu
Hampir tiga kali kunyatakan cinta ini
Adakah kusalah duga menilai sikapmu yg indah padaku

Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya aku yang banyak berharap
Namun sungguh tak ada cinta yang lain
Dengakan inginku ini
Jadi saja

Bukan hanya jadi, kupastikan kesetiaan ini
Bila jadi denganku
Kan kutepis noda yg datang dan pergi

Kahitna – Jadi saja

Tak lama setelah lagu itu selesai, Randy masuk ke dalam mobil sambil membawa 2 kantong plastic penuh dengan snack dan softdrink. “lumayan buat jaga-jaga kelaperan sampe shubuh nih Sha!” ujar Randy sambil tersenyum lebar. Tak sengaja, Randy melihat Atisha menyeka titik air mata tapi tetap membalas senyum Randy.

“lo kenapa Sha?” seketika air muka Randy berubah khawatir.

“gue kelamaan ya Ndy, ngejawab semua pertanyaan lo?” pertanyaan Randy dibalas Tanya lagi oleh Atisha. Randy mengerutkan dahinya. Pertanyaan yang mana?

“maaf ya kalo gue bikin lo bingung. Gue Cuma takut Ndy… gue takut kebersamaan kita yang kaya gini gabisa gue ulang lagi. gue takut kita berantem, gue takut gue harus ngejaga omongan gue supaya lo gak sakit hati. Setelah itu, gue takut lo marah dan pergi dari gue. Gue bener-bener butuh lo untuk ada di samping gue…” Atisha menunduk lagi. mengatakan semuanya sambil memainkan kuku lentik yang rajin ia rawat.

Randy mengerti semua ini. entah dapet angin dari mana tiba-tiba Atisha angkat bicara di topik ini, yang tak pernah dijawab olehnya. “lalu?”

Atisha menatap Randy. Memajukan badannya dan memeluk tubuh tegap itu. “iya Ndy, jadi saja.” Dan Randy pun membalas pelukan Atisha lebih erat.

Malam pun tetap berlanjut dengan perasaan mereka yang lebih dalam, lebih mencinta.

Thursday, 27 October 2011

Rindu - Agnes Monica : apakah cinta mengalahkan logika?

-->
Selama aku mencari
selama aku menanti
Baying bayangmu dibatas senja
Matahari membakar rinduku
Ku melayang terbang tinggi

Bersama mega mega menembus dinding waktu
Kuterbaring dan pejamkan mata
Dalam hati kupanggil namamu
Semoga saja kau dengar dan merasakan

Getaran dihatiku
yang lemah Haus akan belaianmu
Seperti saat dulu
Saat saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
Dan kau bisikkan kata kata
Ku cinta kepadamu

Peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan Perasaan yang teramat dalam
Tlah kau bawa segala yg kupunya
Segala yang kupunya

Agnes Monica - Rindu

***

Rania menyiapkan segala kebutuhan Aldi untuk keesokan hari. Apartemen kecil ini menjadi rumah kedua sebelum kakinya menjejak rumah setelah pulang kerja. Apartemen ini milik Aldi, kekasihnya sejak duduk disemester 2, 4 tahun lalu. Setelah lulus dan diterima diperusahaan asing, Aldi akhirnya mampu membeli apartemen ini.
Melihat jarum di jam tangannya sudah menunjukkan pukul 9 malam, Rania akhirnya mengirim BBM ke Aldi untuk pamit pulang. “makan malamnya udah ada diatas meja ya sayang, yg utk bsk udah aku taruh di microwave. Bsk tinggal panasin aja J. Kamu jangan pulang kemaleman, vitaminnya diminum dulu sblm tidur. Love you Aldi.”
Rania boleh setiap hari datang dan menyiapkan semuanya untuk Aldi, tapi melihat Aldi pun hanya bisa dilakukan seminggu sekali. Itupun sambil menemani Aldi meeting online di apartemen itu. Apa yang membuat Rania kuat? Cinta. Aldi adalah separuh hidupnya, cinta yang mengakar saat dewasa adalah kata sakral diusia 18 tahun. Sampai sebuah tamparan hebat membuat logika dan perasaannya tak lagi berfikir positif.
“Lo ga cape apa Ran, bolak balik ke apartemen Aldi tapi ga ketemu orangnya? Lo tuh sama aja kaya PRT pulang pergi buat Aldi. Keenakan dianya. Belom jadi istri aja udah jarang ketemu, gimana kalo udah?” Sanny, sahabatnya sejak SMA kembali menjadi alarm untuk Rania. “Gue cinta Aldi, San.” Ujar Rania sambil menengguk mocca latte-nya. Wajah kalem Rania memang sekilas terlihat tak terpengaruh oleh perkataan Sanny, tapi hatinya berdesir hebat.
“cinta tuh alesan 4 tahun lalu Ran! Jangan karena lo pernah making love terus lo jadi rela-pasrah begini dong.. tegas sedikit Ran. Kalo lo belom bisa tegas ke Aldi, coba tegas dulu sama hati lo.” Sanny kembali menyesap rokok mildnya.
“minggu depan gue mau ke Sanur, Bali. Ikut gue yuk. Sekalian lo liat perubahan gimana Aldi tanpa lo selama 3 hari. kalo dia sampe rela ninggalin kerjaannya demi lo, berarti dia cinta. Kalo ternyata dia bisa tanpa lo –atau bahkan nemuin orang buat gantiin lo- mending lo mikir dua kali untuk menyandang gelar pacar Aldi.” Sanny menutup pertemuan singkat mereka dengan mengecup kedua pipi Rania, tentunya sebelum air mata Rania jatuh perlahan.

***

“aku udah sampe Sanur ya sayang, semoga meeting-nya lancar…” ujar Rania sambil menikmati aroma dan debur laut didepan matanya. Suara Aldi di ujung telepon sana terdengar risau. “lusa aku jemput ya Ran, kan waktu kita ketemu harusnya lusa…” suara Aldi mulai merayu. Rania tersenyum. “Ga usah Al, aku kan nanti pulang sama Sanny. Lagian kita kan bisa ketemu hari Minggu.” Aldi menyerah sekarang. Dia ga bisa ngelanjutin rayuannya karena meeting udah mau mulai. “oke, nanti malam aku telfon ya. Keep BBM-ing me, okay? I love you Ran.” Klik. Telepon terputus.

Day 1, Jumat. Sanur, Bali.
Rania benar-benar me-refresh pikirannya. Dari kerjaan, juga dari Aldi. Aldi sejak pagi memulai BBM, bukan lagi Rania. Semalam Rania ikut teman sekantor Sanny barbeque-an sambil genjrang genjreng gitar di pantai sampai jam 3 pagi. Jam 6 pagi, ping BBM dari Aldi sudah tak terhitung. Rania tersenyum. Aku baru bangun Al, met kerja yaa.. remember this, TGIF! Bsk bisa tidur seharian J. Beberapa detik kemudian Aldi membalas. Iya Ran, ada meeting sampe zuhur nanti. Aku bisa bls bbm kamu nanti jam makan siang mungkin ya. Have fun there. Setelah itu, tak ada BBM hingga malam kembali menyelimuti Sanur.
Badan Rania mungkin kembali fresh. Tapi tidak oleh hatinya. Hati Rania kembali bergoyang. Apa benar kata Sanny? Apa yang ada di hati Aldi setelah sekian lama, dan setelah intensitas bersama begitu renggang? Sama besarkah cintaku dengan cinta yang Aldi punya? Rania menatap laut. Berusaha melihat seluas matanya memandang, berharap hatinya juga bisa seluas dan sebiru laut dihadapannya.
Sanny membawa segelas orange juice untuk Rania. “lo boleh sampe tidur-tiduran di pantai kok Ran. Tapi please, jangan sampe nangis yaa..” Sanny duduk disamping sahabat kesayangannya. “gue takut San, gue takut statement kedua lo yang bener. Dia bisa tanpa gue. Setelah itu, habislah. Gue bener-bener udah ga dibutuhin Aldi.” Suara Rania bergetar, namun ia berusaha tetap tegar dari gemuruh hatinya. Sanny memeluknya dari samping.
“laut ini luas Ran, lo bisa lihat semuanya dari banyak sudut pandang. Ada deru ombak di sebelah sana, tapi di hamparan lain airnya begitu tenang. Itu hidup Ran, itu juga cinta. ada di dalam cubicle hanya akan membuat lo berpikir di satu ruang yang didominasi oleh pikiran lo sendiri. Beruntung lo bisa berpikir positif, tapi itu bisa jadi boomerang untuk diri lo sendiri.
“inget umur Ran, 22 adalah waktu yang tepat untuk memutuskan semuanya. Masih belum terlambat untuk lo mengakhiri semuanya dan memulai lagi yang baru. Tapi saat lo udah tetap sama Aldi, lo bisa menikmati jenjang hubungan lo di level yang lebih tinggi. Menikah itu titik akhir dari pacaran kan Ran?
“lo mungkin bisa belajar dewasa dari Aldi, dan sekarang saatnya lo mengajarkan bersikap dewasa dan sebelah pihak dari lo. Begitulah cinta Ran, lo bisa belajar dan mengajari pasangan.” Sanny menatap lurus ke laut.
“gue mau sendiri dulu San. gue mau cerita sama laut, sama senja.” Titik air mata itupun jatuh dipipi Rania. Sanny meninggalkan Rania bersama mega merah di ufuk timur sana. Sepeninggal Sanny, Rania membaringkan tubuhnya diatas pasir, kini matanya mengarah ke langit yang mulai gelap, namun berbias merah sisa matahari yang hendak tenggelam. Rania menutup matanya, mendengarkan deru ombak. Berharap playlist di ipodnya seindah lagu alam ini.
Pikirannya membawa scene pada malam itu, 4 tahun lalu. Di pantai Carita, dihadapan debur ombak pantai. Saat cinta itu begitu meletup, tak hanya di hati RAnia, tapi juga Aldi. Saat ikrar cinta itu mereka genggam, saat bibir mereka saling bertemu tanpa nafsu. Lembut dan panjang, seakan ciuman itu mengisyaratkan ketulusan cinta yang begitu dalam.
Lalu rekaman memori itu pindah ke perayaan anniversary mereka yang pertama. Saat dulu dengan motor bebek milik Aldi membawa mereka ke taman kota, yang ternyata telah berubah menjadi meja candle light dinner dengan meja taman dan lampu-lampu yang Aldi tempel sendiri sebagai pengganti lilin. Akustik yang dibawakan oleh pengamen jalanan serasa orchestra yang melantun ditelinga Rania. Entah berapa lama Aldi menyiapkan momen special ini, padahal Rania hanya memesan sepasang kaos couple untuk kado anniversary pertama mereka. Makan malam yang hanya diisi oleh makan sate padang dan es campur pun terasa nikmat dengan rangkaian mawar putih yang dijadikan gelang dan disematkan di pergelangan tangan kanan Rania. “Rania, I love you. Setahun terakhir ini, sampai akhir nafas hidupku.” Aldi mengecup punggung tangan Rania. Rania serasa terbang ke langit yang dipenuhi bintang malam itu.
Mata Rania mulai membanjir saat pikirannya terbang ke memori satu setengah tahun yang lalu, tepat saat wisuda mereka. kebaya dan sarung wiron yang dibelinya bersama Aldi seminggu sebelum wisuda kini melekat pas ditubuhnya. Walau tertutup toga, rasanya pakaiannya saat itu adalah partikel ke sekian yang dipikirkan Rania. Lulus kuliah, bekerja, dan terus melanjutkan perjalanan bersama Aldi, itulah yang kini ia impikan dan mulai perlahan dijawab Tuhan. Sesi foto bersama bertambah satu, foto bersama dengan Aldi. Dengan toga yang kebesaran, keduanya berpelukan mesra di depan background bergambar buku-buku dan tirai merah itu. Setelah blitz DSLR itu hilang, Aldi tetap mendekap Rania dalam pelukannya, “udah lulus kita, Ran. Abis ini kita wujudin mimpi kita yang satu lagi yuk! Aku mau hidup sama kamu sampai akhir nafasku.” Aldi membiarkan Rania mendekapnya lebih erat, sambil merasakan anggukan dan airmata yang membasahi toganya. Aldi tau, Rania tersenyum didalam dekapannya.
Sesaat Rania membuka mata, langit kini telah gelap. Air mata telah bercampur dengan keringat saat adrenalinnya terpompa kala Rania mengingat semua memori indahnya. Para turis sudah mulai pergi dari pantai. Rania bangkit dan kembali pada posisi duduknya yang semula. Saat matanya terbuka, baru ia sadar bahwa drama indah itu sudah lama tak ada dihidupnya. Satu helaan nafas panjang seakan mengisyaratkan airmatanya untuk tidak jatuh semakin banyak lagi. yang Rania butuhkan adalah siraman air dingin dari shower bath room kamar hotelnya.

***

Day 2, Sabtu.  Sanur, Bali.
Hari ini Rania benar-benar ingin ingat pada dirinya sendiri. Ia ingin sejenak lepas dari risau hatinya akan Aldi. Pasar Sukowati adalah tujuannya hari ini. tadi pagi Rania hanya mengirim BBM berisikan selamat pagi dan selamat istirahat, lalu ia me-non aktif-kan BBM-nya.  Hari sabtu adalah hari tidur untuk Aldi. Biasanya pagi-pagi Rania sudah meluncur ke apartemen Aldi untuk menyiapkan sarapan dan membangunkan Aldi, sekaligus mengingatkan Aldi yang harus meeting online.
Seharian ini Rania dan Sanny melakukan ritual ladies day yang telah lama tak mereka jalani. Pergi berdua, window shopping atau benear-benar shopping, makan, jalan-jalan, nyalon & spa, tanpa gangguan telfon, sms, atau bbm sekalipun. Sanny memerankan tugasnya dengan sangat baik. Itulah sahabat, ia tau bagaimana menjadi mood booster untuk sahabatnya sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.30 dan mereka sampai lupa pada perut yang belum terisi lagi sejak sarapan tadi. Mereka memasuki kedai makanan khas Bali. 2 porsi ayam betutu dan urap telah terhidang di meja mereka tak lama kemudian. Obrolan ringan seputar kantor masing-masing, keluarga, juga masa sekolah dulu menyelimuti kehangatan keduanya. Tawa Rania menambah kebahagiaan Sanny. Biarlah ia menjadi sandaran Rania, kalau Aldi tidak bisa. Itu kan gunanya sahabat?
Setelah makan yang kesiangan itu, mereka memutuskan kembali ke hotel. 17.30. Sanny dan Rania sampai di hotel tempat mereka menginap. Mereka memanggil petugas valet parking karena kepayahan membawa segala belanjaan mereka hari itu. Oleh-oleh, koleksi pribadi, hingga snack untuk semalam lagi telah menyatu entah bagaimana didalam 3 kantong plastic besar milik Rania pribadi, tak beda jauh dengan Sanny.
Badan Rania lebih ringan dari biasanya. Pikirannya lebih rileks, ia menyimpulkan semuanya dalam satu kata. Rindu. Rania rindu akan kebahagiaan dirinya dengan Aldi. Rindu akan kebersamaannya dengan Aldi. Hanya saja jika rindu yang dimilikinya tak sama dengan yang Aldi rasakan, ia kembali ke kesimpulan semula. Habislah, Aldi benar-benar tak membutuhkannya lagi.

***
Day 3, Minggu. Sanur, Bali.
Pagi ini seharusnya Rania packing untuk flight-nya nanti sore, tapi ia masih meringkuk di atas kasur memandangi smartphone-nya yang tak kunjung berdering dari kemarin. Ini hari terakhirmu Ran, apa cinta itu benar-benar masih dibutuhkan?
Dengan malas, Rania mengemas barang-barang sekaligus oleh-oleh di koper besarnya. Mengecek BBM dan SMS dari Aldi yang tak kunjung sampai. Sejak kemarin hanya SMS dari mama yang menanyakan kabarnya dan staf kantor yang mengabarkan keadaan kantor.
Pukul 07.00 Rania turun ke ruang makan untuk sarapan. Saat ia memasuki lobby, Rania kaget setengah mati. Lututnya lemas seketika saat ia memandang sesosok lelaki tegap itu di sofa lobby hotel. Polo shirt dan jeans yang terakhir Rania setrika di apartemen Aldi kini telah melekat di tubuh sang empunya. Mata itu begitu sayu, lalu tenggelam di helaian rambut indah Rania.
“2 x 24 jam Ran, kamu sukses bikin aku kelimpungan. 2 x 24 jam, kamu berhasil bikin aku sadar aku udah terlalu lamu gak acuh sama kamu. Aku jahat Ran, aku gak pantes dimaafin harusnya!” pelukan Aldi begitu erat dirasakan Rania.
“pulang ya Ran, aku butuh kamu. Bukan untuk mengurus apartemenku, tapi mengurus apartemen kita. “ mata Rania membulat mendengar sebaris kalimat itu.
“pulang ya Ran, aku butuh kamu untuk mengkonsep pernikahan kita. aku butuh kamu untuk benar-benar melanjutkan perjalanan kita. aku butuh kamu karena aku cinta kamu Rania, 4 tahun ini, hingga akhir nafasku Ran…” Aldi memandang indah mata Rania, gadis berbulu mata lentik yang memikat hatinya sejak pertama bertemu di kampus dulu. Gadis kota yang mengajarkan hidup si perantauan.
“pulang ya Ran, ayah dan ibu menungguku untuk melamarkanku padamu.” Ujar Aldi dengan setetes air mata yang terjatuh. Rania mengusapnya. “imam keluarga itu gak boleh nangis, sepilu apapun hatinya. Menangismu hanya untuk Tuhan. Iya, aku akan pulang untuk melanjutkan perjalanan kita…”

Sanny tersenyum dengan setangkup roti dan kopinya.